Bunga Mawar Putih – Falling in The Darkness (Chapter 17)

By | March 28, 2021
Spread the love

“Kenapa Kemarin kau meninggalakanku Hah?” tanya Jeslyn, dia cukup kesal jika mengingat kejadian kemarin. Kejadian yang sangat mengerikan.

Genta memegang kedua tangan Jeslyn. “Maafkan aku Sayang, itu tidak akan terulang lagi, sebagai penebus dosaku aku akan memberikanmu kejutan!” tawar Genta.

Jeslyn nampak berpikir sejenak, matanya berbinar ia sangat mudah luluh jika menyangkut sebuah kejutan, Jeslyn lalu segera mengangguk. “Apa itu?”

Catatan: Pastikan telah membaca chapter sebelumnya : Jeslyn Hilang! – Falling in The Darkness (Chapter 16)

Genta meraih tangan Jeslyn dan menariknya keluar kamar.

“Kita mau kemana?” tanya Jeslyn kembali.

Mereka berjalan menuju taman yang tak jauh dari kamar Jeslyn.

“Lihatlah bagaimana? Kau suka bukan? Aku sengaja menyuruh Juno membawa bunga itu ke kerajaan ini, Bunga Mawar Putih kesukaanmu!” tunjuk Genta pada kumpulan bunga Mawar membentuk sebuah nama, Jeslyn sadar itu namanya.

“Kau tau bunga kesukaanku?” Jeslyn tak menyangka, dia cukup terkejut.

“Aku mengetahui semua tentangmu sayang!”

Senyum terukir di wajah cantik Jeslyn, entah mengapa sikap Genta terlalu So Sweet menurutnya. “Terima Kasih Tuan Genta, aku sangat menyukainya, sangattttt menyukainya.”

“Apa sekarang kau sudah tak marah lagi?” tanya Genta yang dibalas anggukan oleh Jeslyn.

“Permisi, Selamat siang Tuan,” Sapa Juno.

“Ada apa Juno?” tanya Genta.

“Begini Tuan, saya kemari ingin menyampaikan pesan  bahwa Tuan Leston ingin bertemu dengan anda!”

“Hmm baiklah? Kalau begitu tolong panggilkan pelayan Nona Jeslyn, aku tidak akan membiarkannya berjalan sendirian,” suruh Genta, dijawab anggukan oleh Juno.

“Tak perlu, aku bisa pergi sendiri!”

“Tidak Jeslyn!” tolak Genta, sudah cukup Jeslyn selalu membuatnya khawatir

Beberapa Menit kemudian, Juno kembali dengan Hana mengekor dibelakangnya.

“Aku akan keruangan Ayah.” Genta mengelus surai hitam Jeslyn.

Jeslyn mengangguk paham, dengan rona merah di pipinya.

“Kau beristirahatlah di kamar aku akan segera kembali, dengarkan aku Jeslyn jangan berbuat macam-macam, atau aku akan menghukummu,” ancam Genta tentu dia khawatir, wanitanya ini selalu membuat ulah ketika Genta tak bersamanya.

“Aku mengerti Tuan Genta jadi pergilah!” suruh Jeslyn.

Gentaa lalu mengecup singkat bibir Jeslyn, hal yang membuat Jeslyn sangat malu pasalnya Juno dan Hana masih ada disini.

“Yak, apa yang kau lakukan!” Teriak Jeslyn.

Genta berjalan tanpa mempedulikan Jeslyn yang sedang kesal.

***

“Nona, anda terlihat sangat bahagia,” ujar Hana.

Jeslyn segera memegang kedua pipinya. “Apa sangat terlihat jelas di wajahku jika saat ini aku sedang bahagia?”

Hana mengangguk segera, mengiyakan ucapan Nonanya.

“Jeslyn Adriana Kylen!”

Jeslyn mendengar namanya disebut berbalik, Begitu pula Hana yang berada di belakangnya.

Pria yang memanggil namanya mulai berjalan menghampirinya.

“Kau dari mana? Hmm kau selalu terlihat cantik,” puji Alward sambil menatap Jeslyn kagum.

“A… Ak… aku dari jalan-jalan,” ucap Jeslyn, keningnya berkerut mendapati aroma alkohol yang berasal dari Alward.

“Benarkah?” Jeslyn hanya mengangguk singkat menanggapi pertanyaan Alward.

“Nona, ayo kembali ke kamar,” ajak Hana memperingatkan Jeslyn agar segera kembali ke kamarnya karena takut Tuan Genta akan marah lagi jika tahu Jeslyn berbicara dengan Alward.

“Nona.. Cepat.” Hana berusaha menarik tangan Jeslyn meninggalkan tempat itu, maaf jika lancang.

“Di mana sopan santunmu? aku sedang berbicara pada Jeslyn, apa kau ingin mati hah?” bentak Alward mendapati sikap kurang ajar Hana padanya.

Tubuh Hana menegang, ia melepas lembut tangan Jeslyn. Sedangkan Jeslyn terdiam semakin takut mendengar bentakan Alward.

“Pergilah! Aku akan mengantar Jeslyn ke kamarnya,” suruh Alward.

Hana menggeleng, menolak. “Apa kau lupa? Aku juga memiliki kedudukan yang cukup tinggi di istana ini jadi kau harus mematuhiku!” jelas Alward tegas.

“Tapi Tuan.. Tuan Genta sudah memerintahkan saya…

“Tidak ada tapi-tapian pergilah,” bentak Alward kembali.

Mata Hana berkaca-kaca. “Nona, ba..bagaimana ini?” Hana takut jika Tuan Genta kembali memarahinya seperti waktu itu.

Jeslyn memegang lembut tangan Hana, ia pun tak bisa apa-apa. “Pergilah, aku akan baik-baik saja.” gumamnya pelan.

“Tunggu apa lagi? pergilah,” suruh Alward dengan nada suara meninggi.

Hana dengan berat meninggalkan mereka berdua.

Alward memerhatikan Jeslyn lalu tersenyum hangat padanya. “Ada apa, jangan khawatir ada aku disini!” ucapnya penuh lembut.

“Ka…kau mabuk?” tebak Jeslyn.

Alward segera menggeleng. “Tidak, tadi malam aku hanya minum sedikit wine, jadi aku tak akan mabuk,” sanggah Alward.

“Jangan takut? Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut pria itu.

“Genta kau di mana?” batin Jeslyn semakin takut, menyadari pria dihadapannya ini tengah mabuk.

Alward tersenyum, lalu menatap lekat wajah Jeslyn. “Jeslyn… aku sangat merindukanmu.”

“Apa maksudmu?”

Alward meraih tangan Jeslyn. “Ini sudah lama sekali, sekitar beberapa tahun yang lalu? kita saling kenal!”

Jeslyn menghalau tangan Alward. “Aku tau itu,” jawabnya singkat.

Sikap Jeslyn membuat alward kecewa sangat kecewa. Wanita itu terlihat begitu takut padanya.

“Tapi..” Jeslyn menggantungkan ucapannya, ragu.

“Bi..bisakah kau menjauhiku, aku tunangan dari sepupumu, aku takut orang-orang di kerajaan membicarakan hal aneh tentang kita.”

Alward menegang mendengar penolakan langsung Jeslyn padanya.

“Apa yang kurang dariku sehingga kau menolakku? apa aku harus merebut posisi Genta agar kau menyukaiku?”

Jeslyn dibuat kesal sendiri. “Aku akan pergi, kau tak usah mengantarku aku bisa pergi sendiri, terima kasih atas itikadmu baikmu sebelumnya.” Jeslyn mulai melangkahkan kakinya menjauh.

Belum beberapa langkah, Alward menarik Jeslyn kedalam pelukannya, membuat Jeslyn memberontak ingin melepaskan diri.

“Apa-apaan kau, lepaskan aku Alward!” Jeslyn memukul keras dada bidang pria itu.

“Lepaskan dia sialan!”

Jeslyn dan Alward menoleh ke arah suara, rupanya Genta telah tiba, Jeslyn akhirnya bisa bernafas lega.

Sial, batin Alward perlahan melepaskan pelukannya pada Jeslyn. Alward kesal lagi-lagi Genta merusak momentnya bersama Jeslyn. Alward menatap tajam Genta. Jelas sekali dia marah, dia sangat tidak suka kehadiran Genta.

“Kau rupanya ingin mati?” Genta menatap tajam sepupunya itu.

Jeslyn yang menatap perubahan ekspresi Genta segera menghampiri prianya itu, ia lalu segera memeluknya. “Tidak Genta, Hentikan. Kumohon!” pinta Jeslyn takut Genta akan menyakiti sepupunya itu.

Mendengar larangan Jeslyn, Genta segera mengontol emosinya. “Karena kau sepupuku maka kali ini aku akan melepaskanmu, tapi ingat aku memperingatimu untuk terakhir kalinya, jika kulihat kau menyentuh wanitaku lagi, aku tak akan segan-segan membunuhmu,” maki Genta tersenyum sinis lalu menarik Jeslyn pergi.

***

Akademik Kerajaan

Alice mendesah kesal. Semalaman dia dimarahi oleh ayahnya karena ingin membatalkan perjodohan dengan Alward.

“Ada apa Alice?” Tanya Alin sahabat dekat Alice.

Alice menceritakan seluruh masalahnya pada sahabatnya itu.

“Apa kau serius, beruntung sekali, kau tidak mendapatkan Tuan Muda Genta, tapi kau mendapatkan Tuan Alward, itu suatu keberuntungan,” ujar Alin histeris.

“Jangan samakan dia dengan Tuan mudaku, kurasa aku akan gila jika perjodohan itu berjalan,” gumamnya malas.

“Bersyukurlah, setidaknya kau akan menjadi anggota kerajaan jika menikahi Tuan Alward, itu impian seluruh wanita di kerajaan ini.”

“Diammmm, jangan sebut namanya, aku muak,” teriak Alice malas.

***

Kerajaan Philp

Seorang Pria berjalan memasuki kediaman tuan Phiter, wajahnya terlihat tanpa ekspresi, otaknya dipenuhi dengan kenangan masa kecilnya, akhirnya takdir mempertemukan dirinya kembali dengan cinta pertmanya.

Brak

“Utus aku ke kerajaaan Alexei Ayah!” pinta pria itu setelah menghadap pada Ayahnya.

Tuan Phiter tentu kaget, mengingat respont anaknya beberapa waktu lalu yang menolak untuk berkaitan dengan politik kerajaan. Ada apa sebenarnya? Apa yang membuat Anthony berubah pikiran?

“Ada apa Anthony?” tanya Phiter masih dengan raut wajah heran.

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” lanjut Phiter lagi.

“Ada sesuatu yang harus aku cek Ayah!”

Phiter tersenyum, cukup senang  berharap Anthony mulai mempersiapkan diri untuk menjadi penerus kerajaan ini.

Chapter Lainnya

One thought on “Bunga Mawar Putih – Falling in The Darkness (Chapter 17)

  1. Pingback: Anthony Dari Kerajaan Philp – Falling in The Darkness (Chapter 18) - Novel Fanelaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *