Linangan Air Mata – Falling in The Darkness (Chapter 29)

By | May 26, 2021
Spread the love

Perang terjadi begitu sengit, kedua prajurit kerajaan saling membunuh, ingin memperlihatkan kerajaan mana yang paling tangguh. Aroma amis darah tercium menjadikan kerajaan Philp terlihat bagai lautan darah.

“Bunuh mereka semua!” teriak Genta membangkitkan semangat para prajurit.

Benar-benar bukan tandingan, tak butuh waktu lama kerajaan Philp dibuat tak berdaya oleh kerajaan Alexei.

Tibalah Genta berhadapan dengan sang pemimpin Kerajaan Philp, Tuan Phiter. Mata Genta memicing tajam kearah Tuan Phiter.

“Dimana wanitaku, aku dalam keadaan tidak segan-segan untuk mengoyak jantungmu Phiter! berani-beraninya kau dan anakmu menculik wanitaku,” ancam Genta penuh penekanan dan ancaman.

Tuan Phiter tersenyum licik, menandakan dirinya tak takut akan ucapan Genta.

“Jangan terburu-buru, Jika kau membunuhku sekarang, kuyakini kau tidak akan bertemu bahkan melihat wanitamu lagi, aku bahkan bisa membuatnya tidak akan berengkarnasi kembali!”

Genta mengepal tangannya kuat, sungguh pria tua dihadapannya ini benar-benar memuakkan, ingin sekali Genta merobek jantung pria tersebut saat ini juga!

Dengan sekejap mata Genta telah berada di hadapan Tuan Phiter dengan tangannnya mencengram leher pria tersebut, Ayolah kekuatan Tuan Phiter Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Genta.

“Dimana wanitaku? Hah? Jangan membuatku kehabisan kesabaran!”

“Eitsss Lepaskan aku terlebih dahulu, maka akan segera kuberitahu”

Perlahan Genta melepaskan Cengkramannya.

“Baiklah lihatlah kearah timur! Wanitamu, Dia ada disana!”

Mata Genta dengan sigap melihat kearah kastil disebelah timur.

Deg

Matanya membulat sempurna melihat wanita yang sangat dirindukannya ada disana, tanpa pikir panjang secepat kilat ia berlari kearah kastil tersebut.

“Hahah akhirnya kau jatuh kedalam jebakanku, dasar vampire Bodoh!” Tawa Tuan Phiter.

Pengaruh Jeslyn sangatlah kuat untuk seorang vampir kuat seperti Genta!

***

Kastil Kerajaan Philp

“Alice kumohon lepaskan aku!” mohon Jeslyn pada Alice yang tengah mengikat tangannya dengan kuat.

“Tidak bisa, aku tidak bisa”

“kau, kau kenapa berani menghianati kerajaanmu sendiri kerajaan Alexei, hah?” tanya Jeslyn dengan penuh penekanan.

“Kaulah penyebabnya, aku sangat mencintai Tuan Muda Genta, kehadiranmu membuat semuanya kacau, andai saja kau tidak pernah hadir, ini tidak akan pernah terjadi!” bentak Alice semakin mengeratkan ikatan pada pergelangan tangan Jeslyn.

“kau akan dihukum akibat perbuatanmu ini, Genta bahkan tidak akan segan-segan membunuhmu!”

Plakkkkk

Mendengar ucapan Jeslyn, Alice menampar wajah Jeslyn penuh Amarah, membuat pipi Jeslyn lebam dan sudut bibirnya Berdarah, dia hanyalah seorang manusia ditampar oleh seorang vampir? Itu benar-benar menyakitkan, kekuatan mereka tidaklah sebanding.

Setelah mengikat Jeslyn, Alice segera pergi mencari tempat sembunyi, ia sungguh takut jika Genta melihat dirinya ada di sini, bisa gawat.

“Aku harus menyelesaikan semuanya, ini adalah pilihanku. Jika aku tidak bisa memiliki Genta maka wanita itu juga tak boleh memilikinya.”

***

Brakkk

Dengan kekuatan penuh Genta berhasil mendobrak pintu menarah kastil.

Emosi Genta berada di puncaknya, Dapat diliatnya sang wanita yang sangat dicintainya tengah menangis dengan pipi kiri yang lebam serta darah diujung bibir Jeslyn, siapa yang berani melukai wanitanya?

Sungguh dia semakin marah, tidak akan ada pengampunan untuk orang yang berani melukai Jeslyn.

Jeslyn yang menyadari kehadiran Genta lalu menggeleng dengan cepat.

“Ku…kumohon, pe..pergilah dari sini,” mohon Jeslyn sesegukan.

“Saayangg,” mohon Genta lirih perlahan mendekati Jeslyn.

“Berhenti, jaa..jangan mendekat, pergilah, me..mereka akan membunuhmu hikss!” pinta Jeslyn semakin menangis.

Genta menghentikan langkahnya.

“Aku tidak akan pergi jika kau tidak ikut denganku, Jeslyn, aku merindukanmu begitu pula dengan anak kita!”

“Ku..mohon Genta, menjauhlah”

“Mereka sangat..”

Belum sempat Jeslyn menyelesaikan ucapannya matanya kembali membulat ketakutan melihat kemunculan Anthony tepat dibelakang Genta.

“Akhirnya kau datang Genta!” ucap Anthony tersenyum sinis ia akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.

***

“Apa kau melihat Genta?” Tanya Tuan Leston

“Tidak Tuan, mungkin Tuan muda Genta sedang mencari Nonya Jeslyn!” ucap Mandley meyakinkan.

Leston menghela nafas berat, takut terjadi apa-apa pada anak semata wayangnya itu, ia sadar anaknya itu terlalu ceroboh dan tidak pernah memikirkan keadaanya sendiri.

“Kita harus segera mencari Genta dan Juga Jeslyn, aku khawatir pada mereka berdua!” suruh Tuan Leston.

“Baiklah Tuan”

***

Sementara di menara kastil

Genta menatap Anthony Sinis. Genta menyesal karena terlalu mempercayai pria ini, seharusnya dia membunuh pria itu saat pertama kali bertemu.

“Ternyata permainanmu sangat kotor.” Sinis Genta, mengejek Anthony.

Anthony yang merasa tersindir segera mendekati Genta.

Buk.. Buk

Tanpa pikir panjang Anthony memukul wajah Genta, begitupula sebaliknya.

“Hentikan, kumohon!” teriak Jeslyn ketakutan.

Tidak ada ampun, Genta amat marah ia terus menghantam tubuh Anthony dengan pukulannya.

Tuan Phiter yang baru tiba ikut pula membantu Anthony.1 banding 2? sangat tidak Gentle Man. untung saja kekuatan Genta Sangat kuat, membuat kedua penghianat itu tak berdaya.

Tuan Phiter yang kelelahan segera mengeluarkan sesuatu dari balik Jasnya ia kemudian meniupkan serbuk bunga ester kearah Genta, membuat sang pewaris linglung kesakitan.

Arghhhh

Teriak Genta, merasakan tubuhnya seakan terbelit, Genta terjatuh.

“Kumohon hentikan, he.. Hentikan Anthony, ja..jangan sakiti diaa..” teriak Jeslyn menangis sejadi-jadinya

badannya terus meronta berusaha melepaskan ikatannya.

Berbeda dengan Anthony.

Melihat Genta yang kesakitan Anthony kembali menyerang dan memukul Genta. Membuat wajah sang pewaris lebam.

“Anthony He…hentikannn kau menyakitinya, hiks” teriak Jeslyn tiada hentinya.

“Anthony, sekarang! Ambil pedang itu” perintah Tuan Phiter.

Tanpa basa-basi Anthony segera mengambil pedang dan perlahan berjalan kearah Genta.

Jeslyn menggeleng memohon, tangisannya semakin deras, tak terbendung lagi.

“Jaaa..ngan, kumohonn.. Gentaaaaaaa”

Dengan kuat Jeslyn berhasil melepaskan ikatannya, lalu dengan sekuat tenaga berlari kearah Genta, berusaha melindungi kekasihnya itu.

Anthony mulai bersiap untuk menusuk jantung Genta yang berusaha bangkit.

Sinnggg, tebasnya kemudian.

Anthony Terdiam dengan mata terbelalak melihat pedang panjangnya telah dialiri darah segar, begitu pula Tuan Phiter.

Jeslyn merasakan sakit yang luar biasa, rasa sesak pada bagian dadanya. Bagaimana tidak? Jeslyn dengan cepat menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Genta, Akibatnya Jeslyn lah yang tertusuk pedang tersebut. Anthony menatap tak percaya Jeslyn wanita yang amat dicintainya tertusuk oleh pedangnya sendiri, bukan ini yang dia inginkan. Air matanya jatuh.

Perlahan tubuh Jeslyn Limbung, Genta dengan Sigap memeluk wanita tersebut.

Mata Genta berubah menjadi merah semerah darah menandakan amarahnya yang semakin memuncak, dengan secepat kilat ia menghepaskan tubuh Anthony dan Tuan Phiter dengan sangat keras sehingga membuat keduanya tergeletak tak sadarkan diri.

Genta perlahan memeluk erat tubuh wanitanya yang penuh darah.

Ia menangis dengan keras. hancur sudah hati dan perasaanya saat melihat keadaan Jeslyn yang berlumurkan darah.

“Kenapa kau lakukan ini? Kau bodoh! Tolong bertahanlah. Jangan tinggalkan aku Jeslyn!” teriak Genta dengan dibarengi tangisannya.

Jeslyn menggeleng.

“Jangan salahkan dirimu, Aku mencintaimu, sangatlah mencintaimu,” ucapnya perlahan menutup matanya.

“Jangann… Kumohon Jeslyn, jangan tinggalkan akuuuuuuuu!!” teriak Genta sekeras mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.