Bertemu Kembali– Falling in The Darkness (Chapter 32)

By | June 1, 2021
Spread the love

Flashback

Maxx menatap sendu Genta yang berdiri menunduk menatap keluar jendela. “Genta ikutlah bersamaku!” ajakTuan Maxx.

Namun tak ada sahutan apalagi jawaban dari pria itu.

Maxx menghela nafas panjang, lalu kembali menatap iba keponakan semata wayangnya.

“Hentikan Genta, sudah cukup,” ucapnya kembali.

Genta masih diam, entah apa yang ada dipikirannya saat ini, dia hanya menatap kosong ke arah jendela.

“Kita tidak punya banyak waktu Genta!”

“Diam paman, kumohon tinggalkan aku sendiri!!!!” bentak Genta tidak tahan lagi.

“Sebentar malam bulan purnama ke 5 akan segera muncul! bersiaplah, ini saatnya!” jelas Tuan Maxx.

Deg, Mendadak, ucapan pamannya itu membuat Genta tertegun. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna ucapan pamannya.

“aaa.apa?” ekspresi wajah Genta berubah.

“Penantianmu telah usai, sebentar lagi kau bisa bertemu Jeslyn kembali!”

Semburat senyuman terukir jelas di wajahnya, senyuman pertama Genta setelah kejadian beberapa tahun lalu, akhirnya penantiannnya selama ini tidak sia-sia.

Begitu pula Maxx dia turut merasa bahagia melihat keponakannya ini tersenyum lagi, Jeslyn benar-benar luar biasa mempengaruhi hidup Genta.

“Bersiaplah kita akan melakukan ritual pada jam 12 Malam,” suruh Maxx kemudian berlalu pergi.

“Tunggu Aku sayang, aku akan menjemputmu,” Gumam Genta pelan tersenyum bahagia.

Flasback End

Genta terus saja memerhatikan tingkah Jeslyn, sesekali dia tersenyum benar-benar menggemaskan tingkah wanitanya ini.

“aa..aku Jeslyn!” jawab Jeslyn gelagapan.

Genta mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya sebuh kotak hadiah berisikan bunga mawar putih kesukaan Jeslyn.

“ini untukmu,” sodor Genta tanpa ragu.

“aa..apa ini?” tanya Jeslyn heran.

“bunga untukmu,” jawabnya singkat berlalu pergi.

“pria aneh,” runtuk Jeslyn.

lagi-lagi kelas dibuat ribut oleh sikap Genta yang bisa dikatakan Sangat romantis.

Jeslyn heran bukankah pria itu seharusnya marah karena sikap kurang ajarnya kemarin, tapi mengapa semuanya berbanding terbalik dengan pikiran Jeslyn.

“Jes kau membuatku cemburu, apa kau mengenalnya?” tanya Arlen penasaran.

“tidak, aku bahkan baru bertemu dengannya kemarin!”

“kemarin? bagaimana bisa?, dia terlihat seperti orang yang sangat mengenalmu, dia bahkan tau bunga kesukaanmu!” ucap Arlen melontarkan banyak pertanyaan.

“Akan kuceritakan,” pasrah Jeslyn.

(tunggu dulu, untuk kalian yang bertanya mengapa Genta bisa menjadi mahasiswa. itu karena Genta sangat mudah mengganti identitasnya jika ia mau. apapun yang diinginkannya bisa terjadi. Hanya saja dia sudah berjanji untuk membuat Jeslyn secara perlahan mengingatnya kembali, tidak dengan paksaan seperti dulu, dia tidak ingin wanitanya terluka lagi untuk kesekian kalinya).

***

“Kenapa belum ada Bus!!” runtuk Jeslyn jengkel saat ini dia sedang berada di halte, karena tugas yang menumpuk dia harus pulang kemalaman.

Pippp! Bunyi klakson motor.

Motor sport merah tiba-tiba hadir lalu berhenti tepat dihadapan Jeslyn yang masih asik menggerutu.

Jeslyn mengerutkan dahinya. Siapa ini?

Pria itu turun dari motornya lalu melepaskan helmnya, Menampilkan wajahnya.

jeslyn mengerutkan dahinya kembali, seakan tak asing dengan wajah pria tersebut.

“Jhon?!”

Jeslyn membuang mukanya. John adalah senior tingkat akhir di kampusnya dia kenal dengan Jhon karena beberapa waktu lalu John sempat menyatakan cinta pada Jeslyn, namun Jeslyn tolak karena dia tau pria ini sangat palyboy dan badboy.

“Hay Jeslyn, lama tak berjumpa, aku merindukanmu,” goda Jhon mengedipkan salah satu matanya, berniat menggangu Jeslyn.

“Dia benar-benar menjijikkan,” batin Jeslyn.

“Ikutlah denganku disini bahaya!”

Lebih berbahaya jika aku ikut denganmu

“Tidak usah!” tolak jeslyn cepat.

“Ini sudah malam!” tawar John lagi.

Jeslyn memperhatikan sekitarnya, memang sudah sangat sepi, tapi ikut dengan pria ini? akan lebih mengerikan pastinya.

John mendengus kesal. “naiklah sebelum aku marah Jeslyn”

Jantung Jeslyn semakin berdegup kencang mendengar ucapan Jhon. Tubuhnya menegang. dia mulai takut, pria dihadapannya ini sangat posesif, dan Jeslyn tidak suka dengan hal itu.

“Tidak, aku tidak mau!” tolak Jeslyn lagi.

“Ayo ikut denganku, atau aku akan berbuat yang tidak-tidak padamu, menurutlah” bentak Jhon menarik paksa tangan Jeslyn.

“Lepaskan aku Jhon, tolonggg, siapapun tolong aku!” teriak Jeslyn matanya memanas, sungguh dia takut.

Jhon tetap menarik paksa Jeslyn, namun beberapa saat kemudian.

Buk..bukk

Jhon terkapar dengan sudut bibir yang berdarah.

Mata Jeslyn membulat saat tahu siapa yang menolongnya.

“Kau beraninya menyentuh wanitaku,” bentak Genta marah wajahnya merah.

“Kau siapa hah? beraninya ikut campur!” Jhon langsung berdiri dan menyerang Genta.

Buk..

Dengan muda Genta menepis pukulan Jhon, Genta yang penuh emosi malah balik menendang perut Jhon.

“Dengarkan aku sialan, Jeslyn milikku. jadi jangan harap bahkan bermimpi untuk mendekati ataupun menyentuhnya,” bentak Genta lagi.

“Cih, siapa kau melarangku,” maki Jhon, berdecih.

Genta dibuat semakin emosi dengan ucapan Jhon. “kau mau mati hah?”

“Hentikan Genta kumohon!” teriak Jeslyn saat melihat Genta berniat kembali memukul John. dia takut Genta akan mendapat masalah besar jika sampai membunuh Jhon.

Buk.

Pukulan terakhir Genta membuat Jhon tidak sadarkan diri, Genta bisa saja membunuh pria sialan ini dengan kekuatannya, tapi saat ini tidak memungkinkan karena Jeslyn ada didekatnya, dia tidak mau membuat wanitanya semakin takut.

Genta melangkah mendekati Jeslyn yang meringkuk memeluk kakinya, wajahnya merah dan matanya sembab akibat tangisnya.

“Apa kau terluka?” tanya Genta khawatir, memastikan keadaan wanitanya itu.

Diam, Jeslyn Diam, membuat Genta semakin panik dibuatnya.

“Jangan menangis, kumohon,” mohon Genta tak tega melihat wanitanya menangis.

Deg…

Genta terdiam saat merasakan Jeslyn memeluknya erat, ia bisa merasakan badan wanitanya gemetar karena takut.

“A..aku ta..takut, hiks” ringis Jeslyn sesegukan.

Genta membalas pelukan Jeslyn, mengelus lembut rambut Jeslyn berusaha menyalurkan rasa sayang pada wanita itu.

“Aku disini, jadi jangan menangis! dia tidak akan berani menyentuhmu lagi,” ucap Genta menenangkan.

Perlahan tangisan Jeslyn mereda, ia sangat nyaman berada dalam pelukan Genta, sungguh dia menyukainya. Pelukan Genta begitu memabukkan dan terasa familiar, seperti dia pernah merasakan pelukan seperti ini, tapi dimana, dan kapan?

***

“Terima kasih telah menolongku dan mengantarku pulang!” ucap Jeslyn masih sesegukan.

Genta mengangguk dan tersenyum lembut.

“hmm Genta tunggu dulu ada yang ingin kutanyakan padamu, apa dulu kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jeslyn.

Bagai petir yang menyambar hati Genta, ingin sekali dirinya jujur kepada Jeslyn, tentang kisah mereka yang saling mencintai, tentang dirinya yang menunggu selama 20 tahun untuk bertemu Jeslyn.

Genta menggeleng cepat, dia sudah janji pada dirinya tidak akan memaksa Jeslyn untuk mengingatnya, sudah cukup luka yang dibuatnya untuk Jeslyn.

“Hmm,” ucap Jeslyn singkat

“Baiklah, aku pulang yah, lain kali berhati-hatilah!” Genta mulai menyalakan motornya dan berlalu pergi.

Ini hari kedua Jeslyn bertemu dengan Genta, tapi Jeslyn merasa sangat nyaman berada di dekat Genta pelukan pria itu, jeslyn sangat menyukainya.

“Ada apa dengan diriku ini?” ucap Jeslyn heran.

Leave a Reply

Your email address will not be published.