Penantian – Falling in The Darkness (Chapter 31)

By | June 1, 2021
Spread the love

Kepada Langit yang kau tatap

Ada rindu yang ku titip

***

2 Tahun Kemudian

Jeslyn menghembuskan nafasnya kasar mendengar ocehan dosen yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelasnya, ia lebih senang menatap keluar jendela hal yang menurutnya lebih menarik saat ini.

Oh iya lupa, saaf ini Jeslyn merupakan Mahasiswa semester 4 Jurusan Seni disalah satu University Terkena di kotanya. Dia tumbuh semakin cantik dan menjadi salah satu mahasiswa Populer.

“Sekian dari pemaparan saya, sampai jumpa minggu depan.” Dosen mengakhiri pelajarannya.

Hufff, akhirnya Jeslyn dapat bernafas lega mendengar dosen mengakhiri mata kuliah membosankan ini.

“Jeslyn ayo kita ke…

“Tidak Len aku ingin pulang, aku benar-benar tidak enak badan, lain kali saja yah,” tolak Jeslyn memotong perkataan Arlen sahabatnya, ia tau pasti Arlen ingin mengajaknya jalan, hal yang paling memalaskan menurut Jeslyn.

“Apa kau sakit? Tapi kenapa kau tak terlihat pucat?” tanya Arlen mulai menempelkan telapak tangannya pada dahi Jeslyn. “jangan beralasan kau juga tak demam!”

“Aku tidak sedang demam Len, aku hanya tidak enak badan.”

“Ayolah Jes, sekali ini saja, lagipula ada seorang senior tampan yang ingin berkenalan denganmu, ia ingin mengenalmu lebih dekat! apa kau tidak bosan dengan kesenditianmu.” bujuk Arlen penuh pengharapan.

Jeslyn menggeleng dan menatap tajam ke arah sahabatnya ini.

“Berhenti menjodoh-jodohkanku, kau tau aku tidak suka itu Len, bye aku pergi,” ucap Jeslyn berlalu pergi.

“Satu lagi, aku punya kekasih yang akan segera menjemputku!” lanjut Jeslyn sembarangan, entah mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

“Yah Jes, kau ini! Kekasih apanya? Kau sudah mengatakan itu sejak 2 tahun lalu.”

***

“Sial” runtuk Jeslyn dalam hati, saat gerimis mulai turun. dia tidak membawa payung atau semacamnya.

Jeslyn mulai mempercepat langkah kakinya pulang menuju rumah, dipikirannya hanya satu yaitu rebahan dikasur empuk miliknya, nyaman sekali tentunya.

Bruukk

Namun tanpa sadar dia menabrak seorang wanita di depannya.

“Maafkan Aku! Apa kau baik-baik saja?” tanya Jeslyn membantu wanita itu berdiri.

“Kumohon maafkan Aku, aku benar-benar tidak sengaja,” mohonnya sekali lagi.

Hening, tidak ada ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.

Jeslyn menatap heran wanita yang ditabraknya itu, bagaimana tidak! Wanita tersebut sedang diam menatapnya tajam, dengan tatapan kaget! Heran! tak meyangka? Jeslyn tidak bisa mengartikan arti tatapan waita itu. entah yang pasti tatapannya membuat Jeslyn takut.

Gresskk

“Sekali lagi maafkan aku, aku harus pergi.” Hujan turun semakin deras membuat Jeslyn mau tidak mau pergi meninggalkan wanita itu.

“Rupanya kau hidup dengan baik di sini!”

“Dan aku? Aku Menjadi seperti ini karenamu!” gumam wanita itu pelan namun tajam, ia lalu berbalik menatap kepergian Jeslyn.

“Tidak akan kubiarkan!”

***

Leston berjalan memasuki Istana, dengan beberapa pengawal dibelakangnya, dia baru saja tiba dari perjalanannya.

“Dimana Genta?” tanyanya kemudian.

“Dia sedang berada diruangannya Tuan!”  

“Sampai kapan Genta harus menunggu? Aku tidak bisa melihatnya terus menyendiri seperti itu!” ucap Tuan Leston khawatir.

“Kita tidak bisa memastikannya Tuan, bisa saja sampai besok, lusa, atau bahkan beberapa tahun lagi,” ucap Juno pelan.

“Dia calon pewarisku, tidak seharusnya seorang pewaris terlihat lemah seperti itu!”

“Tuan tau Nyonya Jeslyn adalah hidup Tuan muda Genta, tanpa kehadiran Nyonya Jeslyn Tuan Genta akan terus menutup dirinya seperti itu! kita hanya bisa berharap agar yang maha kuasa segera menghentikan penderitaan Tuan Muda.”

“Aku tau betul itu, tapi ini sudah 20 Tahun setelah peristiwa itu, dan tanda-tanda bulan purnama ke 5 belum terlihat, aku benar-benar tidak tenang!” ucap Tuan leston terdengat jelas nada kepanikan dari ucapannya.

“Sabarlah Tuan pasti ada jalan,” jawab Juno meyakinkan Tuan Leston.

“dan bagaimana keadaan Jeslyn di dunianya?”

“Dia baik-baik saja namun…

***

Jeslyn terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sedang menangis, hatinya begitu sakit.

“Apa aku menangis dalam tidur lagi?”

“kenapa ini terus terjadi?”

“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

Pertanyaan bertubi-tubi terus datang dari otaknya.

Tangannya perlahan memegang dada bagian kirinya, ada rasa sesak, sedih, gelisah, semuanya tercampur jadi satu.

***

Keesokan harinya

“tidak, aku tidak bisa!”

“…”

“kalian saja, ada yang ingin ku urus terlebih dahulu!

“…”

“bye bersenang-senanglah!”

Jeslyn menutup sambungan teleponnya. Baru saja Arlen dan temannya yang lain mengajaknya pergi liburan. Tapi Jeslyn menolak ia lebih suka menghabiskan waktu liburnya di perpustakaan kota sambil membaca buku, kurang bergaul? Yah Jeslyn memang seperti itu.

***

Saat ini Jeslyn sedang berada di sebuah restoran,  dia duduk disalah satu meja berukuran sedang.

“Huh menyebalkan sekali!” ucapnya jengkel.

Jeslyn berdiri lalu berjalan menghampiri seorang pria yang menggunakan kaca mata hitam ia duduk beberapa meja darinya.

“Cepat katakan, apa maumu, jangan membuatku kesal?” tanya Jeslyn tanpa basa-basi.

Diam, pria itu masih diam.

“Kenapa kau terus mengikutiku? Kenapa kau tidak hentinya memandangku! Aku benar-benar risih!” Tanya Jeslyn dengan nada ketus.

Pria itu perlahan melepaskan kaca mata miliknya lalu tersenyum menatap lembut Jeslyn.

Deg

Jeslyn mengerjapkan matanya berulang kali Yaampun ingin rasanya Jeslyn teriak sekeras mungkin, bagaimana tidak pria dihadapannya ini sangat tampan dengan senyuman manisnya. Nyali Jeslyn seketika menciut.

“Maaf nona, tapi saya tidak sedang mengikutimu dan tuduhan lain mu itu tidak masuk aakal! saya sudah tiba di restoran ini jauh sebelum anda tiba, lihatlah makanan saya telah datang” Jelas Pria itu, lalu menunjuk seorang pelayan yang sedang membawa nampan makanan.

Jeslyn mengerutkan dahinya heran, ia yakin sekali pria tampan dihadapnya ini sama dengan pria yang dilihatnya di mini market dan perustakaan kota tadi. Apa dia salah liat?

“Tapi…

“Maaf nona tidak baik mengganggu orang yang sedang makan,” sindir pria itu.

Maluu, itulah yang saat ini ada dipikiran Jeslyn.

“Maafkan aku,” ucap Jeslyn kembali berjalan lalu duduk di meja makannya.

***

Jeslyn melangkahkan kakinya cepat, kesal, saat ini dia semakin kesal.

Pria itu benar-benar membuat Jeslyn risih, katanya tidak mengikutinya, tapi mengapa sekarang dia terus berjalan dibelakang Jeslyn.

Sudah cukup, Jeslyn menghentikan langkahnya, lalu berbalik.

“Yak kau! Kau tidak bisa menyangkal lagi! Mengapa mengikutiku? Apa maumu? Apa kau ingin menculikku?” tanya Jeslyn bertubi tanpa memberikan cela untuk pria itu menjawab.

Pria itu hanya terdiam, tersenyum memandang dan memerhatikan sikap Jeslyn yang sangat lucu.

“Kau berhenti tersenyum, ku akui kau tampan, tapi aku tidak akan tergoda padamu, jawab aku atau akan kutelpon polisi,” ancam Jeslyn.

“Hahaha.” Bukannya menjawab pria itu malah tertawa keras, membuat Jeslyn bertambah kesal.

“Kau tertawa? baiklah akan kutelpon polisi!” ancam Jeslyn segera mengeluarkan Handphone dari dalam tasnya.

“Nona kau ini benar-benar lucu, kau salah paham, aku berjalan ke arah ini karena rumahku ada disebelah sana, aku tidak sedang mengikutimu!” Pria itu menunjuk sebuah rumah besar beberapa rumah dari rumah Jeslyn.

“Jangan menyangkal kau pasti berbohong!”

“Tapi memang benar itu rumahku nona,” ucap pria itu meyakinkan, dia lalu mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. lalu menunjukkannya pada Jeslyn.

Deg

Jeslyn dibuat malu untuk kedua kalinya, Yaampun mau ditaruh di mana wajahnya ini.

Tanpa mengucapkan sepata katapun Jeslyn berlari menuju rumahnya, benar-benar lucu.

Pria itu tersenyum lembut menatap kepergian Jeslyn.

“Aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu, kau semakin cantik dan menggemaskan” gumam pria itu.

“Aku sangat ingin memelukmu Jeslyn, maaf jika aku membuatmu menunggu lama, sayang!” lanjutnya.

***

Clekk…

Jeslyn menutup pintu rumahnya dan menguncinya rapat.

“Astaga Apa-apaan aku ini! Kenapa pede sekali!” runtuk nya melempar asal tasnya.

“Tapi rumahnya hanya berbeda beberapa meter dari rumahku kenapa aku baru melihatnya, apa dia baru pindah!” sudahlah Jeslyn tidak mau ambil pusing dibuatnya.

***

“Jes, liat pria yang ada disana!” ucap Arlen antusias.

“kenapa?” tanya jeslyn cuek.

“dia sangat tampan, tapi kenapa aku baru melihatnya!”

Jeslyn memutar bola matanya kasar, Arlen sahabatnya ini selalu saja seperti itu.

“jes, ayo liat dia!” Jelsyn mengadahkan wajahnya melirik kearah pintu kelas.

Mata Jeslyn membulat sempurna menyadari siapa yang dimaksud Arlen.

Bukankah pria itu, pria yang Jeslyn marahi dan maki-maki kemarin?

Deg

Mata mereka bertemu! Jeslyn buru-buru membuang matanya menatap kearah lain berharap pria itu tidak mengenalinya, semoga saja.

“Omg Jes, dia berjalan kearah kita” sorak Arlen Girang.

matilah aku, mungkin pria itu ingin memarahinya atau bahkan mempermalukannya di kelas ini.

“kita bertemu lagi!?” ucap pria itu tersenyum lembut kearah Jeslyn.

Jeslyn dibuat kaku, perlahan dia mengadahkan wajahnya, menantap canggung kearah pria itu.

“Liat, dia mengenal Jeslyn?”

“Wah aku benar-benar iri dengannya”

Terdengar suara heboh dari seluruh mahasiswa di dalam ruangann ini, seorang pria tampan bak malaikat sedang berbicara dengan seorang Jeslyn yang cantik, benar-benar pasangan sempurna. “Perkenalkan namaku Genta Alexei!” tangan kanannya terulur tepat di depan Jeslyn. “Aku sudah berada diujung penantian ku,” batin Genta lagi.

“Gee..genta?” gumam Jeslyn pelan.

Nama itu, nama yang terasa familiar untuk Jeslyn.

Deg..deg..

Jantung Jeslyn berdetak tidak karuan hanya karena mendengar sebuah nama

“Ada apa ini, apa aku sudah gila?” batinnya berseru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.